Di Indonesia, cerita tentang makhluk halus atau “sesuatu” yang ada di hutan dan desa itu sudah biasa. Dari kecil kita sering dengar. Tapi jujur saja, dulu saya selalu anggap itu cuma bagian dari budaya—cerita turun-temurun, tidak lebih. Sampai kejadian tahun lalu. Saya tinggal di sebuah desa kecil, tidak jauh dari Yogyakarta. Saya punya motor, dan kadang malam-malam saya suka main ke rumah teman di desa sebelah. Jaraknya sekitar 25 menit, lewat sawah dan sedikit jalur hutan tua. Jalannya sempit, aspalnya juga tidak selalu mulus, tapi saya sudah lewat sana ratusan kali. Malam itu sebenarnya biasa saja. Sekitar jam setengah sepuluh, sudah gelap tapi masih ada cahaya bulan—hampir purnama. Saya pulang dari rumah teman, dan waktu sampai di tengah jalan, tepat di bagian yang mulai masuk hutan, saya tiba-tiba merasa ada yang aneh: terlalu sepi. Sulit dijelaskan. Biasanya malam di desa itu tetap ada suara—serangga, jangkrik, kadang anjing dari kejauhan. Tapi malam itu seperti… semua suara dimatikan. Awalnya saya tidak terlalu mikir. Tapi beberapa menit kemudian, saya lihat ada seseorang berdiri di tengah jalan. Itu sudah aneh. Di tempat seperti itu, hampir tidak ada orang lewat malam-malam. Saya pelan-pelan mengurangi kecepatan dan mendekat. Orang itu laki-laki, pakai baju biasa—kemeja dan celana. Dia berdiri membelakangi saya, diam saja. Saya berhenti sekitar lima meter dari dia dan bilang, “Mas, nggak apa-apa?” Tidak ada jawaban. Tidak ada reaksi sama sekali. Saya pikir mungkin dia mabuk atau lagi tidak enak badan. Saya matikan mesin motor dan mulai jalan mendekat. Nah, di situ mulai terasa tidak beres. Setiap kali saya melangkah maju, rasanya jarak kami tidak berubah. Saya jalan lagi—tetap sama. Seolah-olah dia tetap di tempat yang sama, padahal saya jelas maju. Saya berhenti. Saat itu, dia mulai memutar kepalanya… pelan sekali. Bukan badannya—cuma kepalanya. Dan gerakannya itu… tidak wajar. Terlalu lambat, dan sudutnya aneh, susah dijelaskan. Saya tidak tunggu sampai dia benar-benar menghadap. Tiba-tiba saja ada perasaan kuat dalam diri saya: harus pergi sekarang. Bukan panik, bukan takut biasa—lebih seperti insting. Saya langsung balik, nyalakan motor, dan tancap gas. Baru sekitar 20–30 meter saya menjauh, saya dengar suara langkah kaki di belakang. Awalnya pelan, lalu makin cepat. Saya lihat ke spion—dan saya lihat dia. Dia jalan di belakang saya. Bukan lari. Cuma jalan… tapi jaraknya makin dekat. Saya langsung ngebut semampunya. Padahal jalan di situ tidak memungkinkan untuk kencang, tapi saya paksa. Saya lihat lagi ke spion—dia sudah lebih dekat lagi. Dan di situ saya sadar sesuatu yang bikin merinding: kakinya tidak bergerak seperti orang jalan. Seperti… meluncur. Saya tidak tahu itu berlangsung berapa lama. Mungkin 20 detik, mungkin satu menit. Tiba-tiba saja suara langkah itu hilang. Saya lihat lagi ke belakang—tidak ada siapa-siapa. Saya tidak berhenti sampai keluar dari hutan. Baru setelah mendekati desa, saya berhenti dan sadar tangan saya gemetar. Saya pulang dan tidak cerita ke siapa pun. Saya pikir mungkin saya capek, atau cuma halusinasi. Tapi beberapa hari kemudian, saya lihat sesuatu di motor saya. Di bagian belakang, ada bekas seperti telapak tangan kotor. Bukan bekas saya—saya tahu posisi saya pegang di mana. Bekas itu lebih tinggi… dan jari-jarinya seperti lebih panjang. Saya sempat tanya ke teman saya, pelan-pelan, apakah dia pernah lihat orang di jalan itu malam-malam. Dia bilang dia sebisa mungkin tidak lewat sana kalau sudah gelap. Saya tanya kenapa. Dia cuma jawab, “Pokoknya jangan lewat situ malam-malam.” Sejak itu, saya tidak pernah lagi lewat jalan itu di malam hari. Kalau siang, biasa saja. Tapi setiap kali saya lewat bagian hutan itu, selalu ada perasaan aneh… seperti ada yang memperhatikan dari belakang. Saya tahu cerita ini terdengar seperti karangan. Tapi saya tidak butuh orang percaya. Saya cuma ingin cerita saja, karena sampai sekarang saya sendiri tidak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya saya lihat malam itu.