Aku ngontrak rumah. Tua, kayu, langit-langitnya tinggi, lantainya berderit. Pemiliknya menyewakan murah — waktu itu kupikir aku cuma lagi beruntung. Bulan pertama — sunyi. Rumah biasa. Tapi kemudian aku sadar, setiap sore waktu pulang kerja, pintu depan selalu sedikit terbuka. Bukan terbuka lebar, bukan. Celah dua jari. Kunci tidak rusak, lidah kunci masuk — tapi pintu tetap terbuka sedikit. Setiap hari. Aku ganti kuncinya. Tidak membantu. Lalu mulai terdengar langkah kaki. Bukan malam — siang hari. Hari Rabu aku kerja dari rumah. Aku duduk di bawah di meja kerja, dan di atas ada yang berjalan. Pelan, berat, seperti orang tua. Dari sudut ke sudut. Aku naik — kosong. Aku turun — langkahnya mulai lagi setelah satu-dua menit. Seperti menunggu aku pergi dulu. Aku pasang tiga kamera. Satu di kamar tidur atas, satu di tangga, satu di pintu masuk. Dan di sinilah segalanya jadi benar-benar aneh. Langkah kakinya TERDENGAR di rekaman. Kamera menangkap suaranya, mikrofon merekam hentakan di lantai. Tapi di video — tidak ada siapa-siapa. Kamar kosong yang di dalamnya sesuatu sedang berjalan. Aku kirim rekamannya ke beberapa orang. Semua bilang hal yang sama: papan lantai memuai karena perubahan suhu. Oh ya. Papan lantai yang memuainya khusus hari Rabu, waktu aku di rumah. Lalu terjadi sesuatu yang membuatku tidak tidur dua malam. Aku punya buku harian. Kertas, buku catatan biasa. Kutinggal terbuka di meja dapur, pergi ke toko. Pulang — buku catatan terbuka di halaman lain. Halaman kosong. Dan di tengah-tengahnya, dengan pensil, tulisan tangan yang gemetar, ada satu kata. "Rabu" Pensilku memang ditaruh di samping buku catatan. Aku ingat betul, karena memang selalu di situ. Aku foto, tunjukkan ke teman-teman — "kamu sendiri yang nulis terus lupa", "lagi becanda ya", "ada orang masuk waktu kamu kerja". Aku tinggal sendiri. Pemilik rumah tidak punya kunci cadangan — aku sudah ganti kunci. Setelah itu aku sengaja meninggalkan buku catatan terbuka. Setiap hari. Dua minggu — tidak ada apa-apa. Lalu, lagi-lagi hari Rabu, ada tulisan baru. Tulisan tangan yang sama. Dua baris: "jangan pergi tidak suka kalau gelap" Aku gemetar. Bukan karena takut. Karena tiba-tiba aku paham — dia bukan sekadar "ada." Dia kesepian. Dia menunggu hari Rabu karena hari Rabu aku di rumah seharian. Dia membuka pintu waktu aku pulang. Dia berjalan di atas sementara aku di bawah — bukan menakut-nakuti, cuma... hidup berdampingan. Aku tulis di buku catatan: "Kamu siapa?" Keesokan paginya, di bawah pertanyaanku: "sudah lama di sini" Dan di bawahnya lagi, lebih kecil, seperti ragu-ragu: "kamu baik yang sebelum kamu jahat" Aku terus mencoba. Bertanya macam-macam. Kadang muncul jawaban, kadang tidak. Tulisan tangannya selalu sama — besar, gemetar, huruf-hurufnya tidak rapi, seperti tangan yang tidak terbiasa menulis. Atau sudah lupa caranya. Berkali-kali aku bertanya "Kamu siapa?" Tidak pernah ada jawaban untuk itu, tapi suatu hari di halaman hanya tertulis: "tidak ingat" Sekarang sudah lima bulan. Aku masih tinggal di sini. Hari Rabu kerja dari rumah, pintu sedikit terbuka waktu aku pulang, di atas ada yang berjalan. Kami berkorespondensi lewat buku catatan. Ini hubungan paling gila dalam hidupku. Minggu lalu pemilik rumah menelepon, tanya bagaimana rumahnya. Kubilang baik-baik saja. Dia diam lama, lalu pamit begitu saja. Buku catatannya hampir habis. Kemarin aku beli yang baru. Kutaruh di meja, terbuka di halaman pertama. Pagi ini tertulis: "terima kasih" Tidak ada yang percaya. Tapi aku punya buku catatan yang ditulisi seseorang yang sudah lama ada di sini.