Kisah ini terjadi pada bibi saya. Bibi sebenarnya tidak pernah benar-benar menyembunyikan kejadian itu; seluruh keluarga besar kami mengetahuinya, dan seiring waktu peristiwa itu berubah menjadi semacam legenda keluarga. Waktu itu, ia masih seorang perempuan muda berusia tiga puluh tahun dan ibu dari dua anak kecil. Ia mengalami tragedi yang mengerikan: suaminya, yang sudah sepuluh tahun menikah dengannya, meninggal karena leukemia pada usia tiga puluh satu tahun. Setelah pemakaman, keluarga bersiap mengadakan jamuan peringatan bagi almarhum. Di ruangan yang paling besar disiapkan sebuah meja panjang untuk para tamu. Setelah semuanya selesai disiapkan, bibi dan kakak perempuannya pergi tidur di kamar lain. Acara peringatannya sendiri dijadwalkan untuk keesokan harinya. Di tengah malam, bibi tiba-tiba terbangun oleh suara air yang mengalir dari keran. Menurut ceritanya, terdengar jelas seseorang membuka keran di kamar mandi, mencuci muka, keluar, lalu berjalan menuju ruang tamu. Ia mendengar dengan jelas langkah kaki seseorang yang sedang berjalan. Pintu kamar tempat ia tidur setengah terbuka, tetapi di dalam apartemen gelap gulita dan mustahil melihat apa pun. Lagi pula, dari tempatnya ia tidak dapat melihat pintu kamar mandi maupun pintu ruang tamu. Secara refleks bibi melirik kakaknya — kakaknya tidur nyenyak di sampingnya. Tidak ada orang lain di apartemen itu. Ia tidak bisa bergerak sama sekali karena rasa ngeri yang mencekam, dan hampir tanpa bernapas ia berbaring sambil menyimak apa yang terjadi di ruang tamu. Dan di ruang tamu itu seseorang sedang bergerak menyusuri meja peringatan — terdengar bunyi kursi-kursi yang tadi disandarkan ke dinding digeser satu per satu. Bibi mengikuti pergerakan tamu misterius itu dalam benaknya, lalu tiba-tiba ia membeku oleh sebuah firasat yang mengerikan. Ia teringat bahwa di ruang tamu, dekat jendela, masih tertinggal handuk yang tadi digunakan untuk menyeka jenazah. Menurut kepercayaan, handuk yang dipakai untuk menyeka tubuh orang yang meninggal harus dimasukkan ke dalam peti atau dibakar segera setelah pemakaman; kalau tidak, arwah almarhum bisa kembali. Tetapi, baik saat pemakaman maupun sesudahnya, semua orang lupa tentang handuk itu. Suara-suara di ruang tamu mereda, tetapi bibi sama sekali tidak bisa memejamkan mata hingga pagi, siap sewaktu-waktu mendengar atau bahkan melihat apa saja. Keesokan paginya ternyata benar — kursi-kursi di ruang tamu memang sedikit bergeser. Hal itu juga dibenarkan oleh kakaknya, yang masih ingat persis bagaimana ia menatanya malam sebelumnya. Soal handuk sedikit lebih rumit: baik bibi maupun kakaknya tidak ingat dengan tepat bagaimana dan di mana mereka meninggalkannya kemarin malam, sehingga mereka tidak dapat memastikan apakah ada yang menyentuhnya. Di kemudian hari, bibi yang tumbuh di keluarga pekerja yang tidak religius selalu berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa seluruh kisah itu hanyalah halusinasi atau mimpi. Tapi, kalau begitu, bagaimana menjelaskan suara-suara yang terdengar malam itu dan kursi-kursi yang bergeser? Untuk pertanyaan ini, bibi saya tidak punya jawaban.