Tak Terjelaskan — Tidak Ada yang Percaya


Sesuatu yang luar biasa terjadi padamu?
Tapi kamu takut nggak ada yang percaya...


Tak Terjelaskan

Kasus tak terjelaskan, anomali, dan kejadian misterius yang menentang logika dan sains — kesaksian nyata dari para saksi tentang hal yang tak diketahui.

Misteri
Diposting: 2026-03-07

Anak perempuanku waktu itu umurnya dua setengah tahun. Dia baru mulai bisa bicara dengan lancar, sudah bisa menyusun kalimat. Nah, suatu malam aku lagi duduk di dapur, dia main di kamar. Terdengar dia ngobrol sama seseorang. Ya biasa, anak kecil kan suka ngomong sendiri, ngobrol sama boneka — wajar. Tapi lama-lama aku perhatikan — dia jelas-jelas sedang menjawab seseorang. Ada jeda-jedanya. Dia ketawa-ketawa. Kayak lagi berdialog beneran. Aku masuk ke kamar — nggak ada siapa-siapa. Dia duduk di pojok dekat jendela, matanya tertuju ke arah kursi. Kursinya kosong. Aku tanya, "Kamu tadi ngobrol sama siapa?" Dia jawab, "Sama kakek." Aku bilang, "Kakek yang mana?" Kedua kakeknya masih hidup, dia kenal, dan biasa memanggil mereka dengan nama. Dia angkat bahu dan bilang, "Yang duduk di situ." Sambil nunjuk ke kursi. Aku bilang, "Di situ nggak ada siapa-siapa." Dia menatapku seolah aku ini aneh, terus lanjut main lagi. Kalau cuma sekali, mungkin aku sudah lupa. Namanya juga anak kecil, suka ngomong macam-macam. Tapi kemudian ini terulang. Beberapa kali dalam seminggu. Selalu di tempat yang sama, selalu di dekat kursi itu. Suatu hari aku bertanya, "Memangnya kakek itu kayak gimana?" Dia jawab, "Tua. Pakai baju garis-garis." Terus dia nunjuk pergelangan tangannya sendiri dan bilang, "Di sini ada gambar." Aku hampir jatuh. Kakek buyutku meninggal delapan tahun sebelum dia lahir. Aku sendiri nggak begitu ingat beliau — waktu itu aku baru umur enam tahun. Tapi aku ingat jelas, di pergelangan tangannya ada tato. Jangkar atau semacamnya — waktu kecil aku nggak begitu paham gambar apa persisnya. Dan beliau sering pakai kemeja garis-garis — itu aku ingat betul, beliau punya beberapa potong. Foto beliau nggak ada di rumah kami. Aku dan suami sudah pindah ke kota lain, sebagian besar foto keluarga ada di rumah orangtuaku. Anakku nggak mungkin pernah melihatnya. Aku telepon ibuku. Aku ceritakan apa yang dibilang anakku. Ibu diam sebentar, lalu bilang, "Iya, benar. Papa memang punya tato jangkar di pergelangan tangan. Dia bikin sendiri waktu masih muda." Lalu semua itu berhenti begitu saja. Di suatu titik, anakku berhenti ngobrol dengan kursi itu. Aku tanya, "Kakeknya mana?" Dia jawab, "Sudah pergi." Dan selesai. Nggak pernah lagi setelah itu. Sekarang dia sudah tujuh tahun. Dia nggak ingat apa-apa. Bilangnya nggak ingat ada kakek-kakek di dekat kursi.

Tak Terjelaskan
Diterjemahkan dari Inggris
Diposting: 2026-03-04

nggak tau harus mulai dari mana, soalnya kalau aku coba ceritain ini keras-keras — aku sendiri denger betapa anehnya kedengarannya singkatnya. tiga tahun lalu aku pergi ke pemakaman saudara jauh di kota lain. naik bus, lima jam, aku tidur sepanjang jalan. bangun di suatu halte — berhenti sekitar dua puluh menit, semua orang turun buat meregangkan badan. aku juga turun, beli kopi di warung, duduk di bangku. di sebelah ada seorang ibu. sudah tua, biasa aja. kita ngobrol — iseng aja, daripada diam. dia nanya mau ke mana, aku bilang ke pemakaman. dia ikut prihatin. terus dia nanya — kamu sering mikirin soal ini nggak, soal kematian? aku bilang — belakangan ini iya, kerjaan bikin stres, cemas terus. dia diam sebentar terus bilang: "kamu tau, kamu bakal baik-baik aja. khususnya kamu. aku cuma bisa lihat itu." aku nggak terlalu mikirin. orang asing ngomong apa aja juga biasa. busnya jalan lagi. aku balik ke tempat duduk. beberapa saat kemudian aku nengok — ibu itu nggak balik. dia nggak ada di bus. aku pikir — mungkin dia turun di halte tadi. ya udah. sampai sana, pemakaman, semuanya seperti biasa. dua hari kemudian aku mau pulang. dan di sinilah ceritanya. nunggu bus, ngobrol sama tante yang udah lama banget nggak ketemu. aku ceritain soal halte itu, soal ibu tadi. aku deskripsiin orangnya — mantel abu-abu, rambut dicepol, kacamata berbingkai tipis. tante natap aku agak aneh terus bilang — bentar. dia ambil HP. scroll-scroll foto. nunjukin ke aku. itu dia. ibu yang sama persis. tante bilang — ini mamanya tetangga aku. dia meninggal tahun lalu. bulan April. dan aku pergi ke pemakaman itu bulan Oktober. sampai sekarang aku masih mikir — mungkin cuma mirip? mungkin aku ingatnya nggak tepat? tapi aku orangnya visual banget kalau soal mengingat orang, itu emang ciri khasku. dan mantelnya. dan kacamatanya. dan cara dia duduk. yang paling aneh bukan itu. yang paling aneh, hidupku beneran membaik setelah itu. dan aku nggak tau harus gimana soal ini.

Tak Terjelaskan
Diposting: 2026-03-01

Aku punya anak laki-laki. Masih kecil. Hal-hal aneh sudah mulai kami sadari sejak dia masih bayi. Waktu perutnya sering sakit dan dia menangis keras-keras, toples kaca makanan bayi bisa retak sendiri — dan itu terjadi beberapa kali. Pernah juga vas bunga yang retak. Tapi waktu itu kami cuma heran, frekuensi suara seperti apa sih yang keluar dari tangisannya sampai bisa bikin efek begitu. Tapi makin lama makin aneh. Waktu dia sudah agak besar, suatu kali aku bertengkar cukup sengit sama istri — bukan sampai teriak-teriak, tapi nada bicara sudah tinggi. Anak kami nggak nangis, cuma diam memperhatikan kami. Terus tiba-tiba terdengar bunyi "krek" — dan kami lihat ada retakan di kaca jendela. Kami syok. Kalau yang ini, sudah nggak bisa dibilang kebetulan atau efek tangisan keras lagi. Dia nggak masuk TK. Sempat masuk seminggu, tapi kemudian terjadi sesuatu yang nggak mengenakkan. Anak kami bilang dia nggak mau ke sana lagi, katanya anak-anak di sana jahat. Ada dua anak laki-laki yang mendorongnya dan mengejeknya. Dan kebetulan yang aneh: di kelasnya hari itu, kaca jendela pecah berkeping-keping. Kata gurunya, mungkin ada orang yang melempar batu dari luar. Yah, kami punya dugaan sendiri bahwa kaca itu bukan pecah karena batu dari luar. Apakah kami pernah bawa anak kami ke semacam ahli atau spesialis? Tentu saja tidak. Aku nggak mau anak kami dijadikan bahan penelitian atau eksperimen. Tapi mau bagaimana ke depannya, aku juga nggak tahu. Masa iya mau dikurung di rumah seumur hidup supaya nggak ada yang sadar. Aku tulis cerita ini di sini dengan harapan, kalau ada yang pernah mengalami hal serupa, tolong tekan "Been there". Setidaknya aku bisa tahu bahwa kasus kami bukan satu-satunya — dan yang lain juga memilih diam soal ini.

Misteri
Diposting: 2026-02-28

Di Indonesia, cerita tentang makhluk halus atau "sesuatu" yang ada di hutan dan desa itu sudah biasa. Dari kecil kita sering dengar. Tapi jujur aja, dulu aku selalu anggap itu cuma bagian dari budaya—cerita turun-temurun, nggak lebih. Sampai kejadian tahun lalu. Aku tinggal di sebuah desa kecil, nggak jauh dari Yogyakarta. Aku punya motor, dan kadang malam-malam aku suka main ke rumah teman di desa sebelah. Jaraknya sekitar 25 menit, lewat sawah dan sedikit jalur hutan tua. Jalannya sempit, aspalnya juga nggak selalu mulus, tapi aku udah lewat sana ratusan kali. Malam itu sebenernya biasa aja. Sekitar jam setengah sepuluh, udah gelap tapi masih ada cahaya bulan—hampir purnama. Aku pulang dari rumah teman, dan waktu sampai di tengah jalan, tepat di bagian yang mulai masuk hutan, aku tiba-tiba ngerasa ada yang aneh: terlalu sepi. Gimana ya, susah jelasinnya. Biasanya malam di desa itu tetap ada suara—serangga, jangkrik, kadang anjing dari kejauhan. Tapi malam itu kayak… semua suara dimatikan. Awalnya aku nggak terlalu mikir. Tapi beberapa menit kemudian, aku lihat ada seseorang berdiri di tengah jalan. Itu udah aneh. Di tempat kayak gitu, hampir nggak ada orang lewat malam-malam. Aku pelan-pelan ngurangin kecepatan dan mendekat. Orang itu laki-laki, pakai baju biasa—kemeja dan celana. Dia berdiri membelakangi aku, diam aja. Aku berhenti sekitar lima meter dari dia dan bilang, "Mas, nggak apa-apa?" Nggak ada jawaban. Nggak ada reaksi sama sekali. Aku pikir mungkin dia mabuk atau lagi nggak enak badan. Aku matiin mesin motor dan mulai jalan mendekat. Nah, di situ mulai kerasa nggak beres. Setiap kali aku melangkah maju, rasanya jarak kami nggak berubah. Aku jalan lagi—tetap sama. Seolah-olah dia tetap di tempat yang sama, padahal aku jelas maju. Aku berhenti. Saat itu, dia mulai muterin kepalanya… pelan banget. Bukan badannya—cuma kepalanya. Dan gerakannya itu… nggak wajar. Terlalu lambat, dan sudutnya aneh, susah dijelasin. Aku nggak tunggu sampai dia bener-bener noleh. Tiba-tiba aja ada firasat kuat: harus pergi sekarang. Bukan panik, bukan takut biasa—lebih kayak naluri. Aku langsung balik, nyalain motor, dan tancap gas. Baru sekitar 20–30 meter aku menjauh, aku denger suara langkah kaki di belakang. Awalnya pelan, lalu makin cepat. Aku lihat ke spion—dan aku lihat dia. Dia jalan di belakang aku. Bukan lari. Cuma jalan… tapi jaraknya makin deket. Aku langsung ngebut semampunya. Padahal jalan di situ nggak memungkinkan buat kencang, tapi aku paksa. Aku lihat lagi ke spion—dia udah lebih deket lagi. Dan di situ aku sadar sesuatu yang bikin merinding: kakinya nggak gerak kayak orang jalan. Kayak… melayang. Aku nggak tau itu berlangsung berapa lama. Mungkin 20 detik, mungkin satu menit. Tiba-tiba aja suara langkah itu ilang. Aku lihat lagi ke belakang—nggak ada siapa-siapa. Aku nggak berhenti sampai keluar dari hutan. Baru setelah mendekati desa, aku berhenti dan sadar tangan aku gemetar. Aku pulang dan nggak cerita ke siapa pun. Aku pikir mungkin aku capek, atau cuma halusinasi. Tapi beberapa hari kemudian, aku lihat sesuatu di motor aku. Di bagian belakang, ada bekas kayak telapak tangan kotor. Bukan bekas aku—aku tau posisi aku pegang di mana. Bekas itu lebih tinggi… dan jari-jarinya kayak lebih panjang. Aku sempat tanya ke teman, pelan-pelan, apa dia pernah lihat orang di jalan itu malam-malam. Dia bilang dia sebisa mungkin nggak lewat sana kalau udah gelap. Aku tanya kenapa. Dia cuma jawab, "Pokoknya jangan lewat situ malam-malam." Sejak itu, aku nggak pernah lagi lewat jalan itu di malam hari. Kalau siang, biasa aja. Tapi setiap kali aku lewat bagian hutan itu, selalu ada perasaan aneh… kayak ada yang merhatiin dari belakang. Aku tau cerita ini kedengerannya kayak ngarang. Tapi aku nggak butuh orang percaya. Aku cuma mau cerita aja, karena sampai sekarang aku sendiri nggak bisa jelasin apa yang sebenernya aku lihat malam itu.