Tak Terjelaskan
Diposting: 2026-03-21

Waktu itu umurku 26 tahun, kerja di bidang marketing. Aku nggak suka pekerjaanku, tapi nggak bisa juga mengubah keadaan. Waktuku habis buat kerja — libur aja jarang, dan jujur aku bahkan nggak ingat kapan terakhir kali ambil cuti. Terus mulai terjadi hal-hal aneh, yang awalnya nggak aku perhatikan. Kayaknya semua bermula waktu di kantor, bukannya brosur restoran pizza yang aku pesan, malah datang brosur hotel di Republik Dominika. Aku cuma ketawa, "Wah, lumayan nih buat kakakku — dia lagi rencana ke sana sama teman-temannya musim gugur nanti." Beberapa waktu kemudian, seseorang ngasih aku kalender kecil bergambar Republik Dominika di sampulnya. Lalu blogger favoritku posting soal Republik Dominika juga. Dan aku mikir: kalau suatu hari nanti aku benar-benar ambil cuti, sudah tahu mau ke mana. Nah, terus kakakku lagi beli tiket pesawat ke Punta Cana atas namanya sendiri, tapi entah bagaimana malah keketik namaku. Dia sumpah demi apa pun kalau dia sudah ketik namanya. Mungkin autofill yang salah, atau mungkin dia memang keliru — nggak ada yang tahu. Yang jelas, tiketnya sudah tercetak atas namaku. Dan sesuatu dalam diriku langsung bilang: pergi aja. Aku bilang ke kakakku jangan diubah, beli aja tiket baru buat dia. Aku ganti uang tiketnya, lalu bilang ke kantor kalau aku butuh cuti — sudah nggak kuat lagi. Mereka nggak mau kasih izin, bahkan sempat mengancam mau memecat aku (tapi nggak jadi). Akhirnya, aku terbang bareng kakakku dan kami semua menginap di hotel yang sama. Dan malam itu juga, aku berkenalan dengan pria yang sekarang jadi suamiku. Aku yakin itu semua adalah tanda dari takdir supaya kami bisa bertemu. Dan aku sangat bersyukur sudah mengikuti tanda-tanda itu sampai akhirnya menemukan dia.