Nggak Ada yang Percaya — Sesuatu yang luar biasa terjadi padamu?

Sesuatu yang luar biasa terjadi padamu?
Tapi kamu takut nggak ada yang percaya...


Lompatan waktu, glitch realitas, benda yang menghilang dan muncul kembali, percakapan yang nggak ada yang ingat — fenomena tak terjelaskan tidak mengikuti aturan apa pun. Kalau pengalamanmu membuatmu mempertanyakan hakikat realitas itu sendiri, di sinilah tempatnya. Jawaban paling jujur untuk beberapa pengalaman cukup sederhana: kita tidak tahu.

Diposting: 10/3/2026

nggak tau harus mulai dari mana, soalnya kalau aku coba ceritain ini keras-keras — aku sendiri denger betapa anehnya kedengarannya singkatnya. tiga tahun lalu aku pergi ke pemakaman saudara jauh di kota lain. naik bus, lima jam, aku tidur sepanjang jalan. bangun di suatu halte — berhenti sekitar dua puluh menit, semua orang turun buat meregangkan badan. aku juga turun, beli kopi di warung, duduk di bangku. di sebelah ada seorang ibu. sudah tua, biasa aja. kita ngobrol — iseng aja, daripada diam. dia nanya mau ke mana, aku bilang ke pemakaman. dia ikut prihatin. terus dia nanya — kamu sering mikirin soal ini nggak, soal kematian? aku bilang — belakangan ini iya, kerjaan bikin stres, cemas terus. dia diam sebentar terus bilang: "kamu tau, kamu bakal baik-baik aja. khususnya kamu. aku cuma bisa lihat itu." aku nggak terlalu mikirin. orang asing ngomong apa aja juga biasa. busnya jalan lagi. aku balik ke tempat duduk. beberapa saat kemudian aku nengok — ibu itu nggak balik. dia nggak ada di bus. aku pikir — mungkin dia turun di halte tadi. ya udah. sampai sana, pemakaman, semuanya seperti biasa. dua hari kemudian aku mau pulang. dan di sinilah ceritanya. nunggu bus, ngobrol sama tante yang udah lama banget nggak ketemu. aku ceritain soal halte itu, soal ibu tadi. aku deskripsiin orangnya — mantel abu-abu, rambut dicepol, kacamata berbingkai tipis. tante natap aku agak aneh terus bilang — bentar. dia ambil HP. scroll-scroll foto. nunjukin ke aku. itu dia. ibu yang sama persis. tante bilang — ini mamanya tetangga aku. dia meninggal tahun lalu. bulan April. dan aku pergi ke pemakaman itu bulan Oktober. sampai sekarang aku masih mikir — mungkin cuma mirip? mungkin aku ingatnya nggak tepat? tapi aku orangnya visual banget kalau soal mengingat orang, itu emang ciri khasku. dan mantelnya. dan kacamatanya. dan cara dia duduk. yang paling aneh bukan itu. yang paling aneh, hidupku beneran membaik setelah itu. dan aku nggak tau harus gimana soal ini.

100% percaya
32
Percaya
0
Sama
0
Mustahil
Diterjemahkan dari Inggris
Diposting: 6/3/2026

Aku punya anak laki-laki. Masih kecil. Hal-hal aneh sudah mulai kami sadari sejak dia masih bayi. Waktu perutnya sering sakit dan dia menangis keras-keras, toples kaca makanan bayi bisa retak sendiri — dan itu terjadi beberapa kali. Pernah juga vas bunga yang retak. Tapi waktu itu kami cuma heran, frekuensi suara seperti apa sih yang keluar dari tangisannya sampai bisa bikin efek begitu. Tapi makin lama makin aneh. Waktu dia sudah agak besar, suatu kali aku bertengkar cukup sengit sama istri — bukan sampai teriak-teriak, tapi nada bicara sudah tinggi. Anak kami nggak nangis, cuma diam memperhatikan kami. Terus tiba-tiba terdengar bunyi "krek" — dan kami lihat ada retakan di kaca jendela. Kami syok. Kalau yang ini, sudah nggak bisa dibilang kebetulan atau efek tangisan keras lagi. Dia nggak masuk TK. Sempat masuk seminggu, tapi kemudian terjadi sesuatu yang nggak mengenakkan. Anak kami bilang dia nggak mau ke sana lagi, katanya anak-anak di sana jahat. Ada dua anak laki-laki yang mendorongnya dan mengejeknya. Dan kebetulan yang aneh: di kelasnya hari itu, kaca jendela pecah berkeping-keping. Kata gurunya, mungkin ada orang yang melempar batu dari luar. Yah, kami punya dugaan sendiri bahwa kaca itu bukan pecah karena batu dari luar. Apakah kami pernah bawa anak kami ke semacam ahli atau spesialis? Tentu saja tidak. Aku nggak mau anak kami dijadikan bahan penelitian atau eksperimen. Tapi mau bagaimana ke depannya, aku juga nggak tahu. Masa iya mau dikurung di rumah seumur hidup supaya nggak ada yang sadar. Aku tulis cerita ini di sini dengan harapan, kalau ada yang pernah mengalami hal serupa, tolong tekan "Been there". Setidaknya aku bisa tahu bahwa kasus kami bukan satu-satunya — dan yang lain juga memilih diam soal ini.

100% percaya
34
Percaya
0
Sama
0
Mustahil