Halo semuanya! Umurku 23 tahun, aku dari Belo Horizonte, kerja sebagai resepsionis di klinik gigi. Waktu kecil, nenekku sering banget nyeret aku ke berbagai astroleg dan peramal. Buat keluargaku itu udah kayak tradisi. Tapi aku sendiri santai aja nanggepinnya, kurang lebih selevel sama horoskop di majalah. Nah, di bulan Februari aku pergi sama sepupuku Leticia akhir pekan ke Ouro Preto. Itu kota kecil tua yang turistik, nggak jauh dari tempat kami. Kami cuma mau jalan-jalan di gang-gang sempit, nyobain kue lokal, foto-foto di gereja-gereja tua. Nggak ada rencana khusus. Sabtu malam kami lagi balik dari alun-alun pusat ke arah hotel, dan aku mutusin motong jalan lewat gang kecil , di situ ada toko-toko suvenir dan kafe. Dan tiba-tiba aku diberhentiin sama seorang perempuan, umurnya sekitar enam puluhan, rambutnya diiket pake kerudung, tangannya penuh cincin perak. Dia nggak kayak "peramal-peramal" yang biasa narik-narik tangan orang di alun-alun terus minta duit. Dia duduk di depan toko kecil rempah-rempah dan jamu, dan pas aku lewat, dia cuma pelan bilang: "Nak, tunggu." Aku berhenti lebih karena sopan aja. Dia natap aku sekitar lima detik terus bilang ( aku inget hampir persis): "Kamu bakal dapat telepon hari Selasa. Jangan jawab langsung. Pikirin dulu tiga hari. Orang yang nelepon bakal nawarin kamu sesuatu yang kelihatan kayak hadiah, tapi itu bukan hadiah. Dan satu lagi . Sebentar lagi bakal muncul bekas luka di pergelangan tangan kirimu. Kecil. Jangan takut sama bekas itu, itu bakal nyelametin kamu dari hal yang lebih besar." Jujur aku melongo. Leticia di sebelahku cekikikan. Dan perempuan itu cuma balik lagi ke jamu-jamunya, kayak aku udah nggak ada di situ. Kami jalan pergi, tapi entah kenapa aku nggak bisa ngilangin itu dari kepalaku. Nah, sekarang bagian yang paling menarik. Selasa pagi, sekitar jam sepuluh, ada telepon dari nomor nggak dikenal. Hampir aku tolak, tapi di detik terakhir aku inget perempuan itu dan aku angkat. Ternyata itu mantan bosnya papaku. Papaku udah meninggal empat tahun lalu, dan orang ini nggak pernah nelepon kami lagi sejak pemakaman. Dia bilang ada kesempatan bagus buat aku. Katanya kenalannya lagi buka klinik baru di São Paulo, mereka butuh resepsionis, gajinya hampir dua kali lipat dari gajiku sekarang, dan dia inget sama aku, tapi jawabannya harus dikasih cepet-cepet". Langsung kebayang di kepalaku: "jangan jawab langsung, pikirin dulu tiga hari." Aku bilang ke dia aku perlu mikir sampai hari Jumat. Dia jadi kayak aneh, tegang, terus mulai nekan: katanya posisinya bakal keburu diambil orang, harus jawab sekarang, udah ada kandidat lain yang antri. Dan di situ semangatku agak turun. Bukan gara-gara peramal itu, tapi gara-gara cara dia ngomong. Terlalu maksa buat sekadar tawaran kerja biasa. Tapi aku tetap bilang Jumat. Dia setuju dengan terpaksa. Hari Rabu aku minta tolong temanku yang kerja di HR buat nyari tau "klinik baru" di São Paulo itu apaan. Tau nggak? Temanku bilang dia nggak tau apa-apa soal klinik baru, tapi orang yang nelepon aku itu lagi rame dibicarain, katanya dia lagi dalam penyelidikan dan terlibat kasus lisensi medis palsu dan perusahaan-perusahaan bodong. Gitu loh. Kalau aku langsung setuju, aku udah pindah ke kota lain, udah tanda tangan kontrak kerja sama perusahaan bodong, dan paling bagus ya aku cuma kehilangan pekerjaan aja. Paling parah, aku nggak tau. Aku telepon balik dan nolak dengan sopan. Dan sama telepon itu semuanya udah jelas. Sekarang soal bekas luka. Setelah telepon itu aku udah serius nanggepin ramalan itu dan agak takut, bakal kejadian apa, bakal muncul bekas luka gimana. Terus di bulan Maret aku mecahin gelas di dapur. Gelas biasa aja, aku emang mecahin gelas kira-kira sebulan sekali. Pecahannya ngelayang terus ngegores pergelangan tangan kiriku. Nggak dalam, tapi sampe berdarah, dan keluar bekas luka kecil warna pink, pas di atas urat. Aku duduk di lantai dapur sekitar sepuluh menit cuma mandangin pergelangan tanganku. Mikir, gimana sih ini bisa nyelametin aku dari hal yang lebih besar. Leticia sampai sekarang nggak percaya sama ramalan ini. Dia bilang orang-orang emang sering nelepon, dan semua orang juga kadang kegores. Dia bilang otak itu sendiri yang nyocokin kejadian biar pas sama ramalan. Tapi tetap aja, sekarang aku sering banget mandangin bekas lukaku dan inget kata-kata dia: "jangan takut sama bekas itu, itu bakal nyelametin kamu dari hal yang lebih besar." Peluk, Ana